Senin, 16 Januari 2012

Setumpuk Pemikiran

Kelu, berpelu bersama pemikiran, tentang hidup dan kematian
Dua dunia yang dianggap berbeda dan tidak bisa terkomunikasi langsung secara dua arah
Capek rasanya mempertanyakan semua ini
Disana seperti apa? bagaimana? sendirikah?

Rasa ini mati, tidak tahu membedakan sedih maupun senang
Tidak ada lagi ketenangan, hanya kekhawatiran dan keputusasaan
Setitik semangat tak mampu datang
Semua tertahan oleh ketidakmampuan
Bertahan atau meninggalkan

Sekilas, ingin pergi namun hendak kemana dan bagaimana?
Bertahan tidaklah lagi mengasyikan
Menyalahkan kenyataan pun bukanlah jawaban
Lantas apa yang harus dilakukan?

Ditinggalkan adalah kenyataan yang paling menyakitkan

Senin, 31 Januari 2011

Starry Night

And at night I go out and paint the stars.
-- Vincent Van Gogh

Another sky in the weather
of the mind –
clear, so clear –
the sky rages
and swoops;
cold, no wind;
I am sure there is no wind:
the sky
can move of its own
accord.
I see too clearly,
and there is no sedative
for this. Sunlight
or darkness,
I am in pursuit
of focus;
I have always believed
in the extremes, and this extremity has left me
in exile
with my insight.
The flaws in my perception
cannot be cured
with prescription,
this is not a matter of lenses
but vision;
I know what I see
and I know that I am seeing.
It is not
that I cannot be helped;
I do not wish to be.
What some perceive as violence
comes to me
as peace, waves
of comfort
swirling about my head and before my eyes
into beauty.
I have come to view these distortions
as my clarity,
an emancipation
from the commonplace,
though I embrace
the common.
I learned from my time with the miners
that the world is a cave –
above or below ground –
we are all trapped,
and it is dark.
But there are stars
and I must acknowledge them.
I am aware that I love too well
and in my failure to requite
my dreams
my inamorata, this life,
does not love me.
How could she?
She does not see what I see,
she does not trust the impulses
of my terrible passion.
I love people, I love
the world, I lavish them
with red and yellow,
blue and green
letting the colors
do everything.
It seems that only I can see
that they
deserve it.
I walk,
then paint these landscapes
of my hunger, I want to love
and devour –
I will suffocate on my ardor;
I know that.
Look at those stars,
are they not a map
of heaven?
Why should I not describe
them; we shall all get there
soon enough

Koper Masa Lalu

The old picture of me, my mom, my brother and my auntie (standing)

Dear Mom,
I will always miss you now and then mom. Until we meet again and until the cha-cha party begin! 
*koala hugs*
 

Kamis, 27 Januari 2011

Wowo, si Harimau Pelit!



Di sebuah hutan rimba yang asri dan bersahaja, dimana tumbuh banyak pohon-pohon besar nan rindang, bunga cantik bermekaran, dan binatang-binatang hidup berdampingan, tinggalah seekor harimau penjaga hutan bernama Wowo. 

Wowo harimau yang gagah, berbulu belang, berkumis tipis, berkuku tajam dan bersuara tegas. Dari antara semua binatang yang tinggal, hanya dia yang memiliki rumah bagus serta hangat dan pastinya meyimpan banyak makanan lezat yang bisa menganjal perut lapar di kala hujan. Yah, di bulan Desember, hujan lebat memang sering melanda hutan. Sampai-sampai, Petok-Petok, ayam jantan yang tinggal bersama keluarga besarnya sering kali merasa kedinginan dan kekurangan makanan. Pigoi, sang babi baik hati sering kali memberi keluarga besar Petok-Petok tumpangan menginap. 

Minggu pertama di bulan Desember hutan masih tampak baik-baik saja, namun tatkala memasuki minggu kedua, hujan terus-terusan menguyur hutan disertai angin yang sangat kencang. Hal itu membuat seisi warga hutan gak berani keluar. Kasihan, keluarga kuda bernama Hor yang baru aja punya rumah, terpaksa harus luntang-lantung karena rumah baru mereka diterjang badai. Warga mulai merasa cemas, mereka semua kecuali Wowo, mulai kehabisan bahan makanan! 

Untunglah, Hari itu hujan tak terlalu lebat. Maka, mereka kecuali Wowo mengadakan pertemuan di Balai warga. Suasana mulai berdesak-desakan dan akhirnya satu suara pun berkelakar, “Lumbung makanan ku habis tak bersisa! Keluargaku pun sudah tak punya uang karena tidak bisa bekerja dengan kondisi badai seperti ini” ujar Petok-Petok.  “Kita senasib Pak Petok-Petok, rumahku hancur diterjang badai, dan makanan kami hancur terkena hujan. Tapi, aku gak akan biarin keluargaku kelaparan. Kita harus mencari jalan keluarnya!” cerocos Pak Hor. Tiba-tiba, Pigoi pun bersuara.”Aku tau! kenapa kita tidak mencoba meminta bantuan ke Wowo, toh dia punya banyak makanan dan lagi rumahnya besar jadi kita bisa berteduh sampai cuaca membaik”. “Ide yang bagus, mari kita kesana!”. 

Serempak para warga pun bergegas ke rumah Wowo.
Sesampai di rumah Wowo yang hangat dan nyaman, Pak Pigoi memberanikan diri berbicara,
“Wowo…Begini, saya perwakilan dari warga hutan rimba mau meminta bantuan dari kamu. Karena kondisi cuaca yang memburuk belakangan, bolehkah kami menumpang tinggal dirumah mu dan kiranya kamu sudi memberikan pinjam makanan ke kami. Sehabis, cuaca membaik, kami berjanji akan melunasi semua hutang-hutang kami” ucap Pak Pigoi denga hati dag-dig-dug.
Wowo tampak terdiam dengan jidat mengernyit lalu dengan nada ketus dia menjawab, “APA??? Enak saja kalian ingin bermalam disini. Dan apa? Mmeminta saya menyediakan makanan untuk kalian? TIDAK! Persedian makanan saya menipis! Lagipula, rumah ini terlalu sempit karena saya akan menambah perlengkapan rumah lagi dalam waktu dekat. Jadi, lebih baik kalian pergi sekarang!” ungkap Wowo sambil menunjuk kearah pintu keluar yang terbuat dari Pohon Jati. Dengan muka memelas, Pak Pigoi dan para warga balik ke rumah masing-masing.

Tak lama, sehari setelahnya, dengan cuaca yang sudah membaik, tersiar kabar kalau Wowo sedang sakit. Usut punya usut karena sakit perut akibat kebanyakan makan. Pak Pigoi, pun mengajak warga buat berkumpul di balai dan memberikan bantuan kepada Wowo. Tiba-tiba suasana riuh dan memanas,
“Ah, ngapain kita bantu dia. Toh, dia tak membantu kita dikala kita sangat butuh bantuannya. Kita kelaparan kemarin tapi apa sambutan dari Wowo? Kita diusir! Iya gak teman?” ujar Pak Petok-Petok.
“Betul! Kami, keluarga Hor sependapat dengan keluarga Petok-Petok. Dia bukan teman kita, kalau teman tak mungkin kita ditelantarkan dikala membutuhkan bantuan! Betul?” tambah Pak Hor bersemangat dan disambut tepuk-tangan seisi balai. “Tenang-tenang, teman-teman! Coba dipikirkan, sebenarnya kita gak mau kan mempunyai sifat seperti Wowo, dimana ketika seorang teman butuh bantuan malah diacuhkan? Nah, sekarang Wowo butuh bantuan kita. Apakah kita ingin menjadi seperti Wowo yang acuh tak acuh? Tidak kan? Makanya, kita harus membantu dia. Mungkin saja, sikap kita ini bisa merubah diri dia.” Ungkap  Pak Pigoi. Semua orang terdiam, berpikir dan akhirnya menyetujui saran Pak Pigoi. 

Mereka berbondong-bondong  membawa obat-obatan, makanan dan perlatan lain yang dibutuhkan. Wowo, yang melihat kebaikan para warga pun akhirnya menangis terharu. “Duhai teman, maafkan atas sikap ku kemarin. Tidak sepantasnya aku mengacuhkan kalian, teman yang benar-benar peduli dan sayang terhadap aku. Aku sungguh meminta maaf, kalian mau kan berbaikan dengan ku? Aku janji akan memberikan tumpangan serta makanan dikala badai melanda. Sehabis sembuh nanti, aku janji juga akan mengundang kalian ke pesta kesembuhan ku.“ ungkap Wowo dengan mata berlinang.

Semua orang yang mendengar pengakuan Wowo pun merasa terharu. Mereka satu sama lain saling berpelukkan serta tertawa bersama. Hutan rimba pun kembali riuh selepas badai yang melanda.
 
PS :
Sebenernya cerita ini gue tulis buat dua keponakan gue yang wucu-wucu, Baby Brian dan Baby Bhisma. Hehehe, awalnya cuma 'cerita todongan' dan pada akhirnya diniatkan buat diceritakan dalam bentuk tulisan. Pastinya masih banyak kekurangan dan masih butuh saran juga komentar super banyak! Semoga kalian menikmatinya!

*koala hug*
Pic from Google

Handuk dari Masa Lalu

Hari ini tiba-tiba aja, seorang kawan lama bernama Mega Fachry kirim sebuah message ke FB. Isi pesannya singkat, "Kita dulu pernah satu es em pe yah? Lo Dorris Jane Nainggolan kan?". Whoa, siapakah gerangan Mega Fachry? Terlalu banyak cewek bernama Mega yang gue kenal. Setelah sebentar melanglangbuana ke Facebook-nya, gue baru sedikit inget, kayaknya Mega yang dimaksud ini adalah salah satu teman dekat gue semasa SMP. Satu-satunya yang memori yang tertinggal di kepala gue, cewek ini punya bulu tangan super lebat hahaha...Makanya, tanpa ragu gue langsung bales messange-nya, "Ini Mega yang bulu tangannya lebat bukan?Hahahaha...". Eh, ternyata benar adanya sodara. Dia adalah teman lama saya, sesorang dari masa lalu, seorang yang pernah bareng-bareng jalanin kerasnya ekstrakulikuler PASUS (Pasukan Baris Berbaris, eh?) di masa itu. 

Yang bikin perbincangan gue ma doi lebih menarik, dia bilang "Eh, betewe gue masih nyimpen handuk pemberian lo lho waktu PASUS dulu!". Whoaaaa, emang gue akui gue sedikit norak dan berlebihan, tapi yah gue merasa sangattttt terharuuuu...Selidik punya selidik, itu handuk gue kasih waktu kita sama-sama latihan. Entah ada angin baik apa yang merasuk jiwa gue, tiba-tiba gue ngasih itu handuk ke dia. Dan menurut dia lagi, di handuk itu ada tulisan tangan gue, "Mega 1F". Awww, what a sweet friendship! Padahal, kisah ini (seperti) udah terkubur dalam di kotak penyimpanan "kenangan masa lalu" gue, tapi yah emang udah waktunya digali dan muncul kembali.

Ah ya, gue sama dia sama-sama janjian mau ketemuan di PIM dan doi bilangbakal bawa handuk dari masa lalu itu. Can't wait to meet her. I will do some photograph sooner key! Hemphh, just wanna tell you something : "Sometimes you don't realize, a small thing you give to others, could make them feel happy as they've got a lottery." I know I'm too much!

*koala hug*